Semalam aku kembali berdiskusi ringan dengan temanku, kali ini tentang sistem di negeri ini. Pada saat itu aku baru saja selesai mengoreksi ujian mahasiswa dan aku berkata padanya, "53, itu rata-rata nilai ujian kali ini".
"C berarti", ujarnya.
"Bisa jadi, tapi mengapa ini bisa terjadi? Aku sudah mengajarkan semua materi yang ada di silabus", kataku. Sepotong obrolan melarutkan malam itu.
Wajib Belajar 9 tahun. Suatu tujuan pendidikan di masa orde baru. Cita-cita bangsa yang menggiurkan. Semua anak bangsa diwajibkan untuk mengenyam pendidikan formal selama 9 tahun bahkan saat ini akan dinaikkan menjadi 12 tahun. Setelah 12 tahun sekolah, kembali ditawarkan pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu perguruan tinggi dengan janjang yang bermacam-macam. Tetapi saat ini yang 'laku di pasar' adalah jenjang D3 dan S1.
Apa yang diharapkan oleh negeri ini ketika banyak anak bangsa yang mencapai pendidikan tinggi di saat ini? Jika dari sisi negara tentu jawabannya meneruskan perjuangan bangsa ini. Tetapi bagaimana jika pemimpin negeri ini sudah lebih dahulu mempersiapkan penerusnya kelak. Sudah disekolahkan secara mental dan fisik, sudah ditempa dan diuji dengan berbagai kondisi, sudah diberi mainframe tentang memimpin suatu negara. Ahh.. buat apa kita sekolah tinggi-tinggi. Cukup sajalah, asal ada kegiatan, asal gak minder di lingkungan sosial.
Kembali ke kondisi nilai ujian mahasiswaku yang bernilai rata-rata hampir setengahnya. Apa saja yang mereka lakukan diwaktu senggang? Mengapa mereka bisa mendapatkan nilai tidak memuaskan seperti ini?
"Seperti sudah diskenariokan", ujar temanku. Diskenariokan menjadi keadaan yang seperti ini, keadaan dimana mahasiswa disibukkan dengan urusan akademis, disibukkan dengan nilai-nilai. Sehingga para mahasiswa tidak sempat memikirkan urusan lain terutama urusan negaranya, urusan masa depannya. Tidak nikmat hidup seperti ini. Jika di saat kuliah obrolan seputar masalah kuliah maka ketika masuk ke dunia kerja obrolan pun tidak akan jauh-jauh mengenai kerjaan mereka, karena sudah terbiasa dengan obrolan semacam itu.
Banyak orang pintar sekaligus bodoh di negeri ini. Pintar karena usaha mereka sendiri. Bodoh karena andil negeri ini. Jika sudah seperti ini, apa yang salah?
